Thursday, May 14, 2009
Nafsumu,
adalah iblis-iblis kejam
yang membunuh kebahagiaan masa kecil kami
Hasratmu,
adalah setan-setan licik
yang merampas ketentraman kami
Dan segala keburukan perangaimu
menghancur leburkan rumah dan tanah kami
Aku lari, menangis dan takut
Sembunyi di balik ketiak ibuku
Aku takut mendengar gemelegar bom mu
Ibuku berlari terpontang-panting
Aku semakin takut
Tangisku semakin keras
Kerahkanlah tank-tank mu!
Muntahkan berjuta-juta pelurumu!
Lontarkan bom mu!
Hancurkan rumahku!
Ledakkan sekolah-sekolah kami!
Luluh lantakkan masjid-masjid kami!
Bahkan, bunuhlah semua keluarga kami!
Serta pedihkan pandangan kami akan perdamaian.
Tapi,
Semua penderitaan yang kau selimutkan ke tubuhku
Takkan mampu memadamkan semangatku
Aku akan tetap di sini
Dan kau memandangku masih berdiri di sini
Biar langit menyaksikan aku bercerita kepada dunia
Bahwa aku tersiksa di tengah-tengah kaum yang teraniaya
Ku berteriak sampai aus suaraku
Tangisku pun sudah tidak berair mata
Namun, sayang sekali
Bumi sudah berpura-pura tidak bertelinga
Dan langit pun masih diam menghitung waktu
Sungguh amat kejam ideologi-ideologi itu
Teramat biadab isme-isme itu
Dan perang-perang itu
Sama sekali tidak berperasaan.
Wednesday, March 18, 2009
Lubang Di Hati

Hati, adalah segumpal daging dalam tubuh manusia tempat berkumpulnya segala macam rasa. Namun kadangkala, dalam menjalani hidup yang serba kompleks ini,kita merasakan ada sesuatu yang hilang dalam diri kita, hati kita merasakan sebuah kehilangan tapi tidak pernah tahu apa yang hilang itu. Rasa kehilangan atas sesuatu yang membuat kita merasa tidak lengkap,tidak utuh. Kita berusaha mereka-reka, menebak-nebak, apakah sesungguhnya yang telah hilang?. Satu waktu, kita menyangka, oh ternyata inilah yang selama ini hilang dan membuat aku merasa tidak lengkap. Tapi ternyata, kita masih merasa kehilangan. Hidup pun berjalan kembali. Seolah-seolah menemukan sebuah jawaban, kita kembali berpikir,"Ah mungkin inilah yang membuat aku merasa kehilangan selama ini". Tapi ternyata kembali kita keliru dalam mengambil kesimpulan. Kebimbanganpun melanda hati kita. Kita berada dalam suatu persimpangan diantara berbagai alternatif jawaban atas kehilangan yang kita alami. Kita begitu bimbang sehingga kita berhenti melangkah, tidak mengambil langkah apapun dari berbagai alternatif jawaban itu, karena kita bingung manakah yang benar dari berbagai alternatif jawaban itu. Kita mengalami stuck,jalan buntu.
Tapi itu tidak berlangsung lama. Alam sadar segera mengingatkan kita. Bahwa yang Kuasa tidak ingin kita berhenti, putus asa, dalam menghadapi persoalan hidup. Dia tidak menginginkan kita berhenti melangkah mencari jawaban atas kegelisahan yang melanda hati. Kita harus tetap berjalan mencari jawaban yang ssungguhnya. Yakinlah,selama apapun waktu yang kita perlukan, sekeras apapun usaha yang kita lakukan,sesulit apapun jalan yang kita lalui, itu semua tidak akan sia-sia. Jawaban itu pasti akan datang pada waktunya. Dia sedang menunggu kita untuk datang menemuinya. Dan ketika kita menemukan jawabannya, dia akan menunjukkan pada kita tentang manisnya buah dari sebuah perjuangan untuk mencarai jawaban.
Diinterpretasikan dari lagu Letto "Lubang Di Hati."
Oleh Dee@n.
Wednesday, February 25, 2009
TRAGEDI PADA SUATU NEGERI
Nafsumu,
adalah iblis-iblis kejam
yang membunuh kebahagiaan masa kecil kami
Hasratmu,
adalah setan-setan licik
yang merampas ketentraman kami
Dan segala keburukan perangaimu
menghancur leburkan rumah dan tanah kami
Aku lari, menangis dan takut
Sembunyi di balik ketiak ibuku
Aku takut mendengar gemelegar bom mu
Ibuku berlari terpontang-panting
Aku semakin takut
Tangisku semakin keras
Kerahkanlah tank-tank mu!
Muntahkan berjuta-juta pelurumu!
Lontarkan bom mu!
Hancurkan rumahku!
Ledakkan sekolah-sekolah kami!
Luluh lantakkan masjid-masjid kami!
Bahkan, bunuhlah semua keluarga kami!
Serta pedihkan pandangan kami akan perdamaian.
Tapi,
Semua penderitaan yang kau selimutkan ke tubuhku
Takkan mampu memadamkan semangatku
Aku akan tetap di sini
Dan kau memandangku masih berdiri di sini
Biar langit menyaksikan aku bercerita kepada dunia
Bahwa aku tersiksa di tengah-tengah kaum yang teraniaya
Ku berteriak sampai aus suaraku
Tangisku pun sudah tidak berair mata
Namun, sayang sekali
Bumi sudah berpura-pura tidak bertelinga
Dan langit pun masih diam menghitung waktu
Sungguh amat kejam ideologi-ideologi itu
Teramat biadab isme-isme itu
Dan perang-perang itu
Sama sekali tidak berperasaan.
Sunday, January 11, 2009
FREE HUGS IN SEOUL
Hari Minggu yang melelahkan. Tapi meskipun melelahkan, entah kenapa aku nggak bisa tidur. Akhirnya ku ajak mataku untuk nonton tv saja. ARCHIPELAGO, itulah acara yang ditayangkan Metro TV siang itu.kali ini kawasan yang dikunjungi untuk di explorasi adalah Seoul, Korea Selatan.
Seoul, sebuah kota yang modern, makmur, maju, bersih dan canggih. Jalan-jalan bersih, lalu lintas rapi, pejalan kaki melintas dengan aman dan nyaman di trotoar, gedung-gedung tertata dengan tatanan rapi mengesankan modernitas. Nyata perbedaannya dengan saudara jauhnya Pyong Yang. Cerminan dari tingginya peradaban masyarakatnya yang telah dibangun dengan terencana, teratur dan susah payah. Tipe sebuah kota impian, yang agaknya sulit diwujudkan di Indonesia. Bukannya pesimistis, tapi lebih kepada realistis.
Namun, sepeti apa yang dikatakan host acara ini, begitu modernnya kota ini, sehingga begitu sulit untuk mencari sisi-sisi tradisional, yang menunjukkan nilai kultural asli penduduknya. Satu-satunya masih bisa dikategorikan tradisional adalah sebuah kawasan yang disebut Insandong Market. Sesungguhnya kawasan ini tak ubahnya pasar-pasar tradisional yang ada di kota-kota di Indonesia. Yang membuatnya tampak istimewa hanyalah karena kawasan ini berada di tengah-tengah kota yang segala halnya serba modern. Ia adalah seumpama setitik masa lampau yang terbawa ke masa depan. Tapi meskipun pada dasarnya pasar tradisonal, pasar ini amat bersih dan teratur. Tidak seperti pasar-pasar tradisional di Indonesia yang identik dengan kotor, becek, bau dan lalat-lalat hijau besar dengan mata yang menakutkan itu.
Selain makanan-makanan tradisinalnya, ada satu lagi daya tarik dari pasar ini, yang lagi-lagi, mustahil untuk eksis di pasar-pasar tradisional Indonesia. Di situ ada seorang gadis cantik, yang berdiri menebar senyum manisnya kepadasemua pengunjung sambil menjunjung di atas kepalanya sebuah karton besar. Ia seperti gadis ring tinju. Namun, seperti kebanyakan penduduk kota ini yangwira-wiri, hilir mudik, sibuk memenuhi jalanan kota, gadis ini pun tampak terpelajar nan intelektual. Kacamata dan sorot sejuk matanya menegaskan akan hal itu. Rambutnya lurus panjang dan sebagian poninya menutupi dahi. Ia memakai sweater berwarna kalem, dipadukan dengan rok panjang yang tebal berlapis-lapis agak bergelombang dan ada hiasan bunga-bunga kecil. Sepatu imutnya pun, menyatu lembut dengan sweater dan roknya. Ah, gadis ini sungguh cantik dan feminin.
Oh ya, di karton besar yang dijunjung gadis itu, terdapat sebuah tulisan besar yang berbunyi : FREE HUGS. Can you believe it, free hugs man?!. “What is she doing?”, itulah kalimat yang terlontar dari mulut sang host terheran-heran melihat kelakuan gadis cantik yang ada di hadapannya.
Beberapa gadis dan ibu-ibu nampak tak ragu memberi atau lebih tepatnya diberi pelukan gratis oleh gadis ini. Seorang pria bule dewasa pun ikut merasakan kehangatan pelukan sang gadis. Bahkan ia meminta pengunjung lain untuk mengabadikan momen langka dalam hidupnya itu. Dipeluk seorang gadis cantik yang tidak dikenalnya, di negeri orang timur. Mudah-mudahan istrinya tidak mengetahuinya, atau mudah-mudahan ia belum mempunyai istri atau pacar.
Rupanya, sang host kita ini pun ikut tergoda. Ia pun menghamburkan dirinyake dalam dekapan gadis itu. Kedua gadis itu pun tersenyum penuh keakraban. Keduanya seperti dua sahabat lama yang sudah puluhan tahun tidak ketemu yang ketemu terakhir kalinya waktu perpisahan di SD dulu.
Aku tidak habis pikir, apa motivasi si gadis melakukan hal itu. Apakah ia sekedar cari sensasi?. Apakah ia seorang anak yatim piatu yang sejak lahir tidak pernah merasakan kehangatan pelukan dari orang tua, saudara bahkan teman-temanya?. Ataukah ia seorang mahasiswa cerdas dari sebuah universitas terkenal yang peduli pada masalah sosial perkotaan, dimana ia ingin menunjukkan kepada masyarakat kota yang terkena dampak globalisasi dengan menghiasai diri sifat hedonis, materialistis, oportunis dan individualistis, tentang indahnya senyum sapa dan kehangatan kebersamaan?. Atau mungkin ia hanyalah semacam duta wisata yang bekerja pada pemerintah kota untuk menarik wisatawan asing?. Aku tak tahu, bahkan host acara ini pun tak tahu.
Once again, free hugs man. Can you believe it?!. Yang aku bayangkan adalah, bagaimana jika hal itu terjadi di Indonesia. Seorang gadis cantik, berdiri di tengah-tengah pasar, menawarkan pelukan gratis kepada siapa saja yang mau. Wow, aku yakin yang terjadi adalah cowok-cowok pada berebut ingin mendapat pelukan dari gadis itu. Akibatnya, grafik jumlah pasangan yang putus cinta tiba-tiba meningkat drastis. Rubrik-rubrik cinta di majalah remaja, acara-acara curhat di radio-radio, semakin sibuk melayani pembaca dan pendengarnya. Bahkan Dewa Amor pun ikutan cemberut gara-gara gadis itu.
Tiap hari terjadi antrian hebat, cowok-cowok SMA, mahasiswa iseng, tukang becak, pedagang asongan, pengamen, bahakan preman-preman, ikutan ngantri untuk memeluk gadis itu. Pengunjung pun tidak datang dari dalam kota saja, tapi juga dari seluruh kota di Indonesia. Karena begitu banyaknya pengunjung, oleh pemerintah kota area parkir diperluas. Ongkos parkir naik dua kali lipat. Gadis itu yang bekerja, tapi tukang parkir yang berjaya.
Dari hari ke hari, pengunjung semakin membludak. Gadis itu pu harus bekerja ekstra keras. Kelakuan pengunjung pun aneh-aneh. Ada yang sekali meluk gak mau lepas-lepas sehingga merepotkan satpam pasar. Ada yang minta dipeluk berkali-kali. Ada yang meluknya cuma sebentar, tapi tiap hari selalu datang untuk ngantri lagi. Pendeknya, gadis itu semakin terkenal. Ia jadi headline di tv-tv dan koran-koran lokal maupun nasional. Artis-artis jadi cemburu dengan polularitasnya.
Dalam waktu singkat, gadis itu pun masuk MURI sebagai gadis dengan jumlah pelukan terbanyak di Indonesia bahkan dunia. Karena popularitasnya yang semakin menjadi-jadi, ia pun menjadi bintang sinetron yang berjudul “PELUKAN HANGAT SANG GADIS”, dengan soundtracknya sebuah lagu yang berjudul “DARA MANISKU”. Sang gadis tidak lagi beraksi di tengah-tengah pasar, tetapi di depan kamera, dan pasar pun kembali sepi seperti biasa.
Wednesday, December 10, 2008
Spesial for my friends sweety_puro.....
SEJAUH YANG KUKENAL : HANYALAH SEBUAH NAMA
Sebuah fakta dalam alam mayapada
Kenyataan dalam dunia fantasi*
Tak pernah sedetikpun,
bayangan wajahmu singgah di mataku
Tak seperti angin yang berbisik lembut,
telingaku pun tak pernah mendengar suaramu
Hanyalah sebaris kata-kata
Yang kita anggap sebagai sebuah nama
Kau dan aku adalah warna-warna imajinasi
Kita berkolaborasi dalam ruang fantasi
Meski kita tak pernah mendefinisikan keakraban
Namun kita bahagia untuk saling bercerita
Tentang malam-malam yang sepi
Atau,
Senja yang damai berbalut belaian angin yang lembut
Aku mengetuk pintu dunia itu dengan keraguan
Namun ketika bertemu denganmu, sedikit kekosonganku terisi
Kudapatkan kembali senyumku
Kubangun keceriaan yang tidak dapat kubangun dibawah matahari
Kudapatkan setetes embun untuk membasahi hatiku
Mungkin hanya sebatas itulah,
Waktu mengizinkan kita untuk bercengkerama
Ia tak mau kita tenggelam dalam rasa
Sedih, kecewa maupun bahagia.
Kita adalah iringan harmoni suara di angkasa raya
Bertemu di langit yang semu
Kita bahagia dalam kesemuan
Namun sedikit berharap bahwa tak selamanya semu
hanya karena dunia ini dapat dilihat dan nyata. Sedang gagasan hakiki yang merupakan cabang dunia, justru engkau namakan imajinasi.
Padahal kenyataannya sebaliknya, imajinasi itu adalah dunia itu sendiri”
-Jalaluddin Rumi-
-Jalaluddin Rumi-
-Jalaluddin Rumi-
Aku bukan penjaga pengairan.
Kata-kataku bukan gerakan benda yang membuat orang penasaran.
Kata-kataku bukan imajinasi yang membangun dunia nyata.
Kata-kataku hanyalah mimpi yang membangun alam fantasi”
-Dee@n-
Mereka mengalir ke arah-arah yang berbeda, tergantung takdir membawa hidup mereka. Tapi suatu saat, takdir akan mempertemukan mereka kembali, untuk mengingatkan mereka tentang bening dan gemericiknya persahabatan.
Seperti bening dan gemericiknya air yang mengalir dari puncak gunung.
-Dee@n-
-Kahlil Gibran-
-Kahlil Gibran-
sphere&smooth, sweetest_smile, crispy_laugh, semi_otomatic, me&my_selfish, explosive_XX, d’hard_heart, little_but_sweet, lely_R.A, choe_rie, gus_dur, sleepy_eye.
Great thanks 4 Kiroro, after long time, finally i found u. Thanks 4 ur beautiful voice.
*Judul lagu Koil The Rock
Thursday, December 4, 2008
MENANTI SETETES EMBUN
Adalah sebuah keindahan, jika engkau dapat meraih apa yang benar-benar engkau inginkan. Sesuatu yang engkau merasa nyaman untuk menjalaninya. Tapi apa yang benar-benar kita inginkan, belum tentu juga yang terbaik bagimu. So…,what we have to do?. Just going whre the wind blows. Jalani saja seperti angin berhembus atau air mengalir. Asal jangan sampai airnya bertambah keruh dan kotor karena mengalir menuju ke got.
Jangan pernah mengeluh soal HPmu yang ketinggalan jaman kepada teman yang tidak punya HP. Jangan pernah mengeluh soal motormu yang kehabisan bensin, kepada temanmu yang jauh-jauh ke sekolah naik sepeda. Dan, jangan pernah mengeluh soal soal sepatumu yang buruk kepada orang yang tidak punya kaki (Indy Febirani,”Gerimis”). Intinya, ini adalah soal rasa syukur. Syukurilah hidupmu, syukurilah apa yang kau miliki saat ini. Sebelum rasa memilki itu pergi dan menggantinya dengan rasa kehilangan.
Semua dari kita, sebenarnya memiliki sesuatu yang nilainya melebihi dari apa yang kita inginkan. Hanya saja, seringkali kita tidak menyadarinya. Oleh karena itu renungkanlah, jangan sampai kita tersadar memiliki sesuatu setelah sesuatu itu menghilang
Hidup ini bukan hanya perkara hasil, tapi juga perkara proses. Berjuanglah, langkahkan kakimu, ambil resiko, raih apa yang kau cita-citakan. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah keberhasilan. Semakin besar keberhasilanmu, semakin besar pula harga yang harus kau bayarkan. Jangan sampai suatu saat kau menyesal karena merasa belum berjuang. Penyesalan seperti ini, rasanya lebih nyeri di hati daripada penyesalan yang kau rasakan karena kegagalan meski telah berjuang.
Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya, yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang melesat-lesat itu. Analogi eksperimen itu tak lain, karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolut, dan waktu relatif tergantung kecepatan gerbong —ini pendapat Einstein—maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain.
-Andrea Hirata, dalam Edensor-
Monday, December 1, 2008
SAJAK UNTUK BUNGA
dan dari penerang untuk kebaikan
Di mataku, kau selalu tampak indah
Menatap sejuk dan senyummu…
Memancarkan energi kebaikan yang kan…
Menentramkan hatiku
Membasahi kekeringan hatiku,dan…
Menerbitkan matahari dalam kegelapan mimpiku
Di dekatmu, aku selalu merasa bahagia
Walau mungkin,
Tak sebahagia Shrek kala berada di dekat Viona
Meski mungkin,
Tak sedekat Mr.Frodo dan cincinnya
Dan meski juga, agaknya…
Belum semenarik kombinasi hiu dan remora.
Aku juga terbiasa tersenyum
Jika keindahan kelopak bungamu
Dipendarkan berkas putih sinar matahari
Aneka warna yang ada padamu berpendar,
lalu luruh membungkus hatiku
Di dalam seribu pesonamu
Tersirat beribu-ribu ayat-ayat Tuhan
Berkehendak aku membacanya
Mudah-mudahan aku sanggup
Tapi keyakinanku berkata, "Selama kau punya hati, kau bisa melakukannya!"
Tapi seperti besarnya asa Arai meraih keindahan Nurmala
Sebesar itu pula lah…
Asa menjadi sumsum hatiku
Asa untuk menjadikanmu matahariku
Asa untuk menjadikanmu Edensor dalam hatiku
Dan, asa membangun Babilonia untuk mengikat pesonamu.
Tapi aku juga hanya rumput-rumput kecil
Aku tak kuasa menghalangi keinginan matahari
Untuk mengusir kebeningan embun pagi dari tubuhku...
Aku hanya akan berharap, dan tetap berharap
Bahwa malam akan datang dan kembali menurunkan titik-titik embunnya.
Awal Desember '08 12.29 AM
Kala cahaya menatap bunga yang sedang


